Skip to content

tugas 5 psikolinguistik

  1.   Gangguan Berbicara
  • Ganngguan Akibat faktor Lingual

Nama               : Jusmiati Rachman

Alamat           : BTP

Umur              : 20 tahun

 

Gangguan berbicara ini disebabkan karena bibir sariawan atau terlukan akan terasa pedih kalau digerakkan. Makanya ketika Jusmiati berbicara sagat susah dan apa yang dia ucapkan tidak terlalu jelas, sehingga misalnya, kalima “Nanna mau ka makan” dia ucapkan menjadi “Nah mw ka makann” kalimat initidak begitu jelas didengar dan aktivitas berbicara dia kurangi.

2.      Gannguan Berbahasa

Nama               : Gerru

Alamat            : Tidung

Umur               : 27 tahun

 

Berbahasa, berarti berkomunikasi dengan menggunakan satu bahasa. Tetapi lain halnya dengan Gerru dia berbahasa dengan menggunakan bahasa yang tidak jelas dan kadang menggunakan gerakan tubuh apabila dia tidak tahu untuk mengucapkannya. Begitupun dengan lawan bicaranya akan susah mengerti. Penyakit yang dia derita menurut dokter yaitu down syndrom.

3.      Gangguan Berfikir

Nama               : Umpang

Alamat            : Daya

Umur               : 22 tahun

 

Laki-laki ini mengalami depresi yaitu sedih, lelah berlebihan, hilang minat dan semangat, malas beraktifitas, dan pola tidur. Faktor dan penyebanya yaitu faktor organ biologis karena ketidak seimbangan neurotransmiter di otak terutama serotonin dan faktor pisikologisnya karena tekanan pisikis, dampak pembelajarabn perilaku terhadap situasi sosial.

tugas 4 psikolinguistik

Teori-teori Stimulus Respon

  • Teori Ivan Petrovich Pavlov

Inti dari Teori Ivan Pavlov adalah pembiasaan.

Contohnya :

Ketika saya ingin bangun pagi maka saya membunyikan alarm pukul 05.00, lama kelamaan walaupun saya tidak memasang alarm saya akan tetap bangun pada jam 5 pagi karena dipikiran saya harus tetap bangun jam 5. Ini adalah bentuk dari teori stimulus terkondisi.

  • Teori Asosiasi Edward L.Thorndike

Dasar dari belajar (learning) tidak lain sebenarnya adalah asosiasi suatu stimulus akan menimbulkan suatu respon tertentu. Dalam proses belajar, pertama kali organism (hewan, orang) belajar dengan cara coba salah (trial and error)  kalau organisme berada dalam situasi yang mengandung masalah, maka organisme itu akan mengeluarkan serentakan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu.

Contohnya :

Disaat saya ingin pintar berenang maka saya melakukan latihan, pertama saya gagal dengan tenggelama tapi lama kelamaan saya mampu berenang selama 2 menit dan dengan terus latihan akhirnya saya dapat berenang dengan lama dan mampu berenang dengan berbagai gaya. Jadi, hokum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan.

  • Teori Behaviorisme dari Jhon Brodes Watson

Teori Behaviorisme dari Jhon Brodes Watson menerangkan bahwa segala perilaku manusia sebagian besar akibat pengaruh lingkungan sekitarnya. Lingkunganlah yang membentuk kepribadian manusia.

Contohnya :

ketika saya berada di kota Palopo saya tidak menggunakan jilbab saat keluar dari rumah, tetapi ketika saya berada di kota Makassar saya berubah menggunakan jilbab saat keluar rumah karena dilingkungan sekitar saya banyak yang menggunakan jilbab.

  • Teori Kesegeraan dari Edwin Guthrie

Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.

Contohnya :

Disaat saya menginginkan pulsa maka saya menelpon kakak saya untuk meminta pulsa dan ketika saya sudah dikirimkan pulsa, saya sudah tidak menghubunginya lagi. Ini hanya berlangsung sementara.

  • Teori Burrhus Frederic Skinner

Burrhus Frederic Skinner (1904-1990) adalah tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung (directed instruction) & meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning yang berkebangsaan Amerika. Gaya mengajar guru dilakukan secara searah dan dikontrol melalui pengulangan (drill) dan latihan (exercise). Menurut Skinner unsure yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement).

Contohnya :

ketika saya  dipukul karena membuat kesalahan di depan kelas maka saya tidak berani lagi tunjuk jari. Karena alasan ini dan beberapa alasan lainnya, banyak pakar psikologi yang merekomendasikan bahwa hukuman hanya boleh dilakukan untuk mengontrol perilaku ketika tidak ada alternatif lain yang lebih realistis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

tugas 3, psikolinguistik

Mengkaji Bahasa Menurut Teori Ferdinand De Saussure, Leonard Bloomfield, dan John Rupert Firth.

  1. Teori Ferdinand De Saussure

Ferdinand de Saussure (lahir di Jenewa, 26 November 1857 – meninggal di Vufflens-le-Château, 22 Februari 1913 pada umur 55 tahun) adalah linguis Swedia yang dipandang sebagai salah satu Bapak Linguistik Modern  dan semiotika. Karya utamanya, Cours de linguistique générale  diterbitkan pada tahun 1916, tiga tahun setelah kematiannya, oleh dua orang mantan muridnya, Charles Bally and Albert Sechehaye, berdasarkan catatan-catatan dari kuliah Saussure di Paris. Konsepnya yang paling terkenal adalah pembedaan tanda bahasa menjadi dua aspek, yaitu signifiant (yang memaknai) dan signifie (yang dimaknai). Dalam semiologi, Saussure berpendapat bahwa bahasa sebaigai “suatu sistem tanda yang mewujudkan ide” dapat dibagi menjadi dua unsur: langue (bahasa), sistem abstrak yang dimiliki bersama oleh suatu masyarakat yang digunakan sebagai alat komunikasi, dan parole (ujaran), realisasi individual atas sistem bahasa.

Telaah Sinkronik dan Diakronik

Secara harfiyah Sinkronik berasal dari Bahasa Yunani (dengan akar kata syn = bersama dan khronos = waktu) yang artinya mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu saja misalnya, nama kota Djember pada masa zaman Nippon (sekarang menjadi Jember)

Sedangkan Diakronis (yang juga berasal dari Bahasa Yunani dia = melalui dan khronos = waktu) pengertiannya adalah mempelajari suatu bahasa sepanjang masa, artinya selama bahasa itu masih digunakan oleh penuturnya, seperti contoh bahasa melayu klasik yang menggunakan imbuhan Mer sekarang sudah diganti Me dan Ber

Melihat definisi kedua teori ini maka bisa disimpulkan bahwa untuk mempelajari bahasa jauh lebih sulit menggunakan teori diakronik sebab harus mengetahui asal mula sebuah akar kata, terlebih hal ini nantinya berhubungan dengan dialek

Akan tetapi sebagai pengamat tentunya kita bisa mengambil sisi plus dan minus dari dua teori yang dimuat dalam buku Course de Linguistique Generale karya Ferdinand de Saussure. Misalnya sisi plus minus tersebut dalam meneliti Bahasa Indonesia dengan teori sinkronis di era Jepang, maka kemudahan peneliti adalah spesifik pada masa tersebut tanpa harus melihat Bahasa Indonesia pada kurun waktu di jajah Belanda atau pasca merdeka. Nah, sisi minus meneliti Bahasa Indonesia dengan teori diakronis adalah sangat rumit karena harus mengetahui perkembangan bahasa sejak zaman Sriwijaya, sebab harus mengetahui sebab-musabbab adanya sebuah bahasa tersebut sehingga dituturkan menjadi kata.

Langue, Langage dan Parole

Trio langage-langue-parole digunakan Saussure untuk menegaskan objek linguistik. Fenomena bahasa secara umum disebutnya langage, sedangkan langue dan parole merupakan bagian dari langage. Parole adalah manifestasi individu dengan bahasa yang mengindividukan makna; sedangkan langue adalah langage dikurangi parole, yakni bahasa dalam proses sosial. Saussure dalam hal ini lebih menitikberatkan studi linguistik pada langue. (Saussure, 1988:75).

Langue merupakan bahasa sebagai objek sosial yang murni dan dengan demikian keberadaannya diluar indifidu, sebagai seperangkat konvensi-konvensi sistemik yang berperan penting dalam komunikasi. Langue merupakan sistem sosial yang otonom, yang tidak bergantung kepada materi-tanda-tanda pembentuknya. Sebagai sebuah institusi sosial, langue bukan sama sekali sebuah tindakan dan tidak bisa pula dirancang atau diciptakan atau diubah secara pribadi, karena pada hakikatnya langue merupakan kontrak kolektif yang sungguh-sungguh harus dipatuhi bila kita ingin berkomunikasi, singkat kata langue adalah bahasa dalam wujudnya sebagai suatu sistem.

Berkebalikan dengan langue, pareole merupakan bagian dari bahasa yang sepenuhnya individual. Parole dapat dipandang, pertama-tama, sebagai kombinasi yang memungkinkan subjek (penutur) sanggup menggunakan kode bahasa untuk mengungkapkan pikiran pribadinya. Disamping itu, ia juga dapat dipandang sebagai mekanisme psiko-fisik yang memungkinkan subjek menampilkan kombinasi tadi. Aspek kombinatif ini mengimplikasikan bahwa parole tersusun dari tanda-tanda yang identik dan senantiasa berulang. Karena merupakan aktivitas kombinatif maka parole terkait dengan penggunaan indifidu dan bukan semata-mata bentuk kreasi. Singkatnya, parole merupakan penggunaan aktual bahasa sebagai tindakan individu-individu.

contohnya yaitu “permainan catur”. Para pemain sebagai “komunitas pecatur” menguasai kaidah permainan tersebut, yakni langue,  antara lain aturan tentang cara menjalankan setiap jenis bidak catur, misalnya “kuda” mengikuti gerakan “huruf L”, “raja” hanya bisa bergerak satu kotak demi satu kota, “ratu” dapat bergerak melewati semua kotak kecuali berjalan secara diagonal, dan seterusnya. Kaidah itu mengarahkan bagaimana pecatur harus menjalankan bidaknya, yaitu parole.

contoh percakapan yang menggunakan langu, parole, langage.

Mia : panas ya? (langue)

Arma : mau dinyalakan kipas anginnya kah ? (sambil menunjuk kipas angin). (parole)

Mia : iya, nyalakan mi. (langage)

Signifiant dan Signifie

Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure, makna adalah ’pengertian’ atau ’konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda-linguistik. Menurut de Saussure, setiap tanda linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu (1) yang diartikan (Perancis: signifie, Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant, Inggris: signifier). Yang diartikan (signifie, signified) sebenarnya tidak lain dari pada konsep atau makna dari sesuatu tanda-bunyi. Sedangkan yang mengartikan (signifiant atau signifier) adalah bunyi-bunyi yang terbentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Dengan kata lain, setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual).

Sebagai contoh, kita ambil kata bahasa Inggris book yang berarti ‘buku’ dan mengacu pada sebuah acuan, yaitu sebuah buku. Ketiganya dapat digambarkan seperti pada bagan berikut :

‘buku’

book ……………. (sebuah buku)

(b,o,o,k)

Hubungan Sintagmatik dan Paradigmatik

salah satu konsep dikotomis yang dikemukakan de Saussure ini merupakan salah satu konsep perlu dipahami. Mengapa? Karena menurutnya, bentuk-bentuk bahasa dapat diuraikan secara cermat dengan meneliti hubungan paradigmatik dan hubungan sintagmatik dalam bahasa.

Hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan. Menurut Kridalaksana, hubungan sintagmatik ini bersifat linear. Misalnya dalam kalimat “Saya menulis artikel”, terdapat hubungan sintagmatik antara saya, menulis dan artikel dalam pola kalimat SPO (Subyek – Predikat – Obyek).

Sedangkan hubungan paradigmatik, menurut Kridalaksana, merupakan hubungan antara unsur-unsur bahasa dalam tataran tertentu dengan unsur-unsur lain di luar tataran itu yang dapat dipertukarkan. Dalam kalimat di atas “Saya menulis artikel” kata “Saya” dapat dipertukarkan dengan kalimat sejenis. Karena unsur kata “Saya” merupakan kata benda dan hidup (animate) yang berfungsi sebagai subyek dalam kalimat tersebut, maka kata “saya” dapat dipertukarkan dengan kata “adik”, “Budi”, atau “Orang” itu.

Senada dengan pemaham di atas, Jakobson muncul dengan istilah “axis” (poros) yang artinya hubungan. Dua poros tersebut adalah poros sintagmatik dan poros paradigmatik. Dapat dikatakan bahwa poros sintagmatik merupakan poros horisontal, sedangkan poros paradigmatik merupakan poros vertikal. Kita bisa memerikan penjelasan ini dengan gambar:

 

Keterangan

X: poros sintagmatik

Y: poros paradigmatik

de Saussure memperjelas gagasannya dengan memberi analogi sebuah tiang bangunan. Tiang itu berhubungan satu sama lain dan dengan bagian lain dari bangunan (secara sintagmatik) dan berhubungan dengan jenis tiang lain yang bisa saja dipergunakan atau dipertukarkan (paradigmatik). Pemahaman tersebut bisa diterapkan dalam contoh berikut ini.

 

Paradigmatik (vertikal) Paradigmatik (vertikal) Paradigmatik (vertikal) ——————–
Saya menulis artikel Sintagmatik (horisontal)
Ibu membaca surat Sintagmatik (horisontal)
Orang itu membeli buku Sintagmatik (horisontal)

2.      Teori Leonard Bloomfield

Leonard Bloomfield (1887-1949), pada perkembangan ilmunya banyakdipengaruhi oleh dua aliran psikologi yang bertentangan, yakni behaviorismedan mentalisme. Pada awalnya, linguis Amerika ini mengkaji bahasadengan pendekatan mentalisme. Dia berpendapat bahwa berbahasa dimulaidari melahirkan pengalaman luar biasa , terutama karena penjelmaan tekananemosi yang sangat kuat. Karena tekanan emosi itulah maka akan keluarucapan atau kalimat berbentuk eklamasi, lalu keluar keinginan berkomunikasiberupadeklarasi. Jika keinginan deklasi ini keluar dalam bentukkeingintahuan maka keluarlah interogasi. Pada tahun 1925 Bloomfieldmeninggalkan aliran empirisme dan beralih pada aliran behaviorisme, yang

memunculkan teori bahasa “linguistik struktural” dan “linguistiktaksonomi”.

Misalnya seorang anak berjalan bersama ibunya dan melewati sebuah gedungyang memiliki atap unik ciri khas sebuah masjid. Si anak kemudian bertanya:

“Ibu,itu apa namanya?”

“Itu masjid namanya, sayang

” jawab si ibu. Kemudian si anak terangsang bertanya lebih lanjut,

“Apa itu masjid, bu?”.

“Tempat orang berdoa dan sholat bagi orang yang beragama Islam”

Jawab si Ibu. Bandingkan bila jawaban ibuatas pertanyaan yang sama menjawab “

Itu kan hanya sebuah gedung biasa. Kenapa sih tanya-tanya?”

Terakhir, dalam ide penguatan positif dan penguatan negatif pembelajaran pembentukan tingkah laku manusia, behaviorismememperkenalkan pentingnya motivasi dan feedback

dalam pembelajaran bahasa sebagai suatu alat. Walaupunini adalah sesuatu issu yang kompleks tetapi behaviorist memahami bahwa penguatan adalah sesuatu yang berharga dan pembelajaran tidak dapat berjalan tanpaadanya motivasi dan feedback.

3.      Teori John Rupert Firth

Menurut Firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Bahasa adalah susunan dari konteks-konteks ini. Tiap-tiap konteks mempunyai peranan sebagai lingkungan untuk unsur-unsur atau unit-unit tiap tingkat bahasa itu. Susunan dari konteks-konteks ini membentuk satu keseluruhan dari kegiatan-kegiatan yang penuh arti. Maksudnya, tiap-tiap unsur pada tiap tingkatan mempunyai arti yang dapat dibedakan dan dianalisis.

Menurut Firth struktur bahasa itu terdiri dari lima tingkatan yaitu tingkatan fonetik, leksikon, morfologi, sintaksis, dan semantik. Yang menjadi unsur dalam tingkatan fonetik adalah fonem, yang menjadi unsur dalam tingkatan morfologi adalah morfem, yang menjadi unsur dalam tingkatan sintaksis adalah kategori-kategori sintaksis; dan yang menjadi unsur dalam tingkatan semantik adalah kategori-kategori semantik. Firth lebih memusatkan perhatian pada tingkatan fonetik dan tingkatan semantik. Sedangkan tingkatan lain kurang diperhatikan.

Fonem dapat dikaji dalam hubungannya dengan kata. Konteks fonologi terbatas pada bunyi-bunyi “dalam” yang terdapat pada kata. Bentuk yang meragukan pada satu tingkat, tidak selalu meragukan pada tingkatan lain.

Misalnya, bentuk /kèpala] dalam bahasa Indonesia. Pada tingkatan fonetik bentuk ini meragukan sebab ada beberapa makna kata kepala dalam bahasa Indonesia. Untuk menjelaskan, kita dapat beranjak ketingkatan yang lebih tinggi yaitu tingkatan morfologi atau sintaksis atau semantik. Dalam konteks morfologi bentuk kepala kantor ataupun keras kepala tidak meragukan lagi.

 

 

 

 

 

Pengertian Bahasa Itu Bersistem, Bersifat Arbitrer, dan Bersifat Konvensional, Serta Contoh Dari Masing-masinng Fungsi Bahasa

1. Bahasa itu bersistem

Bahasa sebagai sebuah sistem merupakan suatu susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Ia terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang secara teratur menurut pola tertentu, dan membentuk satu kesatuan. Sebagai sebuah sistem, bahasa sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Bersifat sistematis, artinya bahwa bahasa tersusun menurut satu pola yang tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Sementara secara sistemis berarti bahwa bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tapi terdiri juga dari sub-sistem atau sistem bawahan, seperti sub-sitem fonologi, sub-sistem morfologi, sub-sitem sintaksis, sub-sistem semantik. Kemudian tiap-tiap unsur dalam subsistem-subsistem tersebut juga tersusun menurut aturan atau pola tertentu, yang secara keseluruhan membentuk satu sistem. Jika tidak tersusun menurut aturan atau pola tertentu, maka subsistem tersebut tidak dapat berfungsi.

Menurut Chaer (1995 : 15), Bersistem artinya susunan yang teratur berpola berbentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Bahasa terdiri atas unsur -unsur yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu dan membentuk suatu kesatuan. Bahasa selain bersifat sistematis juga bersifat sistemis, artinya bahasa itu tidak bersistem tunggal melainkan terdiri atas beberapa subsistem yakni subsistem fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon.

2. Bahasa Bersifat Arbitrer

Kata arbitrer mengandung arti manasuka. Tetapi istilah arbitrer disini adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut (Chaer 1994:45). Yang dimaksud dengan arbitrer adalah tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dengan kata lain, hubungan antara bahasa dan wujud bendanya hanya didasarkan pada kesepakatan antara penurut bahasa di dalam masyarakat bahasa yang bersangkutan. Misalnya, lambang bahasa yang berwujud bunyi kuda dengan rujukannya yaitu seekor binatang berkaki empat yang biasa dikendarai, tidak ada hubungannya sama sekali, tidak ada ciri alamiahnya sedikit pun.

3. Bahasa Bersifat Konvensional

Konvensional dapat diartikan sebagai satu pandangan atau anggapan bahwa kata- kata sebagai penanda tidak memiliki hubungan instrinsik atau inhern dengan objek, tetapi berdasarkan kebiasaan, kesepakatan atau persetujuan masyarakat yang didahului pembentukan secara arbitrer. Tahapan awal adalah manasuka/ arbitrer, hasilnya disepakati/ dikonvensikan, sehingga menjadi konsep yang terbagi bersama (socially shared concept).

Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbiter, tetapi penerimaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu yang bersifat konfensional. Artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konfensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Jadi kalau kearbiteran bahasa pada hubungan antara lambanag-lamabang bunyi dengan konsep yang dilambangkannya, maka kekonfensionalan bahasa terletak pada kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu sesuai dengan konsep yang dilambangkannya.

Fungsi Bahasa

1. Contoh fungsi bahasa untuk menyatakan ekspresi diri

Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain :

–       Agar menarik perhatian orang lain terhadap kita

–       Keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi.

Sebenarnya semua fungsi bahasa sebagai yang dikemukakan di atas tidak terpisah satu sama lain dalam kenyataan sehari-hari. Sehingga untuk menetapkan dimana yang satu mulai dan di mana  yang lain berakhir sangatlah sulit. Pada taraf permulaan, bahasa pada anak-anak sebagai berkembang sebagai alat untuk menyatakan dirinya sendiri. Dalam buaian seorang bayi sudah dapat menyatakan dirinya sendiri, ia menangis bila lapar atau haus. Ketika mulai belajar berbahasa, ia memerlukan kata-kata untuk menyatakan lapar, haus dan sebagainya. Hal itu berlangsung terus hingga seorang menjadi dewasa; keadaan hatinya, suka-dukanya, semuanya coba diungkapkan dengan bahasa agar tekanan-tekanan jiwanya dapat tersalur. Kata-kata seperti, aduh, hai, wahai, dan sebagainya. Menceritakan pada kita kenyataan ini.

2. Contoh Fungsi Bahasa Sebagai Alat Komunikasi

Bahasa adalah alat umum yang telah digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi sejak lama. Dalam kehidupan bahasa digunakan untuk bersosialisasi dengan orang lain antara lain dengan berbicara dan menggunakan isyarat/simbol.

Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan dan pemikiran yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli atau menanggapi hasil pemikiran kita.

Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita (dalam arti kita menggunakan kata yang sudah umum).

Contoh Percakapan 2 orang :

Ari     : Darimana saja kamu?
Bima : Tadi habis pergi.

Percakapan 2 orang tersebut menggunakan kata sederhana sehingga mudah dimengerti.

3. Contoh bahasa sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial

Melalui bahasa seorang anggota masyarakat perlahan-lahan belajar mengenal segala adat istiadat, tingkah laku, dan tata karma masyarakatnya. Ia mencoba menyesuaikan dirinya (adaptasi) dengan semuanya melalui bahasa. Seorang pendatang bau dalam sebuah masyarakat pun harus melakukan hal yang sama. Bila ingin hidup dengan tentram dan harmonis dengan masyarakat  itu ia harus menyesuaikan dirinya dengan masyarakat itu; untuk itu ia memerlukan bahasa, yaitu bahasa masyarakat tersebut. Bila ia dapat menyesuaikan dirinya maka ia pun dengan mudah membaurkan dirinya (integrasi) dengan segala macam tata karma masyarakat tersebut.

4. Contoh bahasa sebagai alat kontrol sosial

Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau merupakan alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show ) di televise atau radio. Iklan layanan Masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Disamping itu. Kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.

Tugas 1

Pengertian Psikolinguistik Menurut para Ahli

1. Hartley

Psikolinguistik membahas hubungan bahasa dengan otak dalam memproses dan mengkomunikasikan ujaran dan dalam akuisisi bahasa. Hal yang penting adalah bagaimana memproses dan menghasilkan ujaran dan bagaimana akuisisi bahasa itu berlangsung. Proses bahasa berlangsung adalah pekerjaan otak. Yang tidak dimengerti dan tidak diketahui yang pasti ialah bagaimana proses pengolahan bahasa sehingga berwujud satuan-satuan yang bermakna dan bagaimana proses pengolahan satuan ujaran yang dikirim oleh pembicara sehingga dapat dimengerti pendengar. Yang pasti segala sesuatu berada dalambatabatas kesadaran ( pembicara maupun pendengar).

2. Carles Osgood dan Thomas Sabeok

Psikolinguistik secara langsung berhubungan dengan proses kode dan mengkode seperti orang berkomukasi.

3. Robert Lado

psikolinguistik adalah gabungan melalui psikologi dan linguistik. Bagaimana telaah atau studi pengetahuan bahasa, bahasa dalam pemakaian , dan perubahan bahasa. Menurut Lado psikologi hanya merupakan pendekatan. Pendekatan untuk menelaah pengetahuan bahasa, pemakaian bahasa dan perubahan bahasa.

– Pengetahuan bahasa bersangkut paut dengan masalah kognitif.

– Pemakaian bahasa berkaitan dengan praktek pengetahuan bahasa (apa yang diketahui dikemukakan dalam pemakaian bahasa).

– Peruabahan bahasa menyangkut akuisisi bahasa dan tahap perkembanganya terutama ketika manusia masih kecil/kanak.

4. Emon Back

Psikolinguistik adalah ilmu yang meneliti bagaimana sebenarnya pembicara membentuk dan membangun suatu atau mengerti kalimat tersebut. Hal ini mengacu pada domain kognitif, yakni bagaimana bahasa berproses dalam otak kita. Bahasa yang diwujudkan dalam kalimat dihasilkan oleh pebicara yang kemudian diusahakan untuk dimengerti oleh pendengar.

5. Langacker

Psikolinguistik merupakan telaah akuisisi bahasa dan tingka laku linguistik terutama mekanisme psikologis yang bertujuan pada kedua bahasa tersebut. Akuisisi bahasa bersangkut paut dengan proses pemerolehan bahasa. Tingkah laku linguistik mengacu pada proses kompetensi dan performance bahasa. Proses ini bahasa ini tetap dalam otak. Oleh karena itu mekanisme psikologi sangat berperan.

6. Diebolt yang dikutip Slama

Psikolinguistik dalam pengertian luas membicarakan hubungan antara psean dengan sifat-sifat kemandirian manusia yang menyeleksi dan nmenafsirkan pesan.

7. Paul Fraisse

Psikolinguistik adalah hubungan antara kebutuhan kita untuk berekpresi dan berkomukasi dan benda-benda yang ditawarkan kepada kita melalui bahasa yang kita pelajari sejak kecil dan tahap-tahap selanjtnya. Berdasarkan batasan-batasan yang telah disebutkan diatas terdapat pandangan sebagai berikut:

– psikolinguistik membahas hubungan bahasa dengan otak.

– psikolinguistik berhubungan langsung dengan proses mengkode dan menafsirkan kode.

psikolinguistik sebgai pendekatan.

– psikolinguistik menelaah pengetahuan bahasa, pemakaian bahasa, dan perubahan bahasa.

psikolinguistik menitikberatkan pada pembahasan mengenai akuisisi bahasa dan tingkalaku linguistik.

Mana yang Lebih Dahulu Berbahasa atau Berfikir? Kemukakan Satu Teori.

Menurut saya yang lebih dahulu adalah berfikir karena ketika mereka berbahasa maka kita dapat menebak apa yang telah difikirkan dan manusia berbahasa karena memiliki tujuan yang telah difikirkan. Makin sering manusia berfikir maka makin banyak hal yang dia bicarakan.  Bahasa digunakan untuk mengoperasikan hasil pemikiran manusia. Sebagaimana teori yang diungkapkan Abdul Chaer, (Psikolinguistik; 2002) Berbahasa adalah penyampaian pikiran atau perasaaan dari orang yang berbicara mengenai masalah yang dihadapi dalam kehidupan. Berbahasa adalah berpikir adalah tiga hal atau tiga kegiatan yang saling berkaitan dalam kehidupan manusia. Berbahasa, dalam arti berkomunikasi, dimulai dengan membuat enkode semantic dan encode gramatikal didalam otak pembicara, dilanjutkan dengan membuat encode fonologi. Kemudian di lanjutkan dengan penyusunan decode fonologi, decode gramatikal, dan decide semantic pada pihak pendengar yang terjadi di dalam otaknya.